Dari teras kedua Candi Cetho ada jalan kecil yang berlanjut pada tracking berupa jalan tanah menuju Candi Kethek. Candi ini berada di kawasan hutan lindung milik Perhutani dengan ketinggian sekitar 1400 meter dpl.
Jalanan mendaki ketika kita berangkat dan menurun ketika kita pulang. Jika musim hujan tiba jalanan akan terasa licin. Jadi saranku gunakan alas kaki yang nyaman.
Setelah keluar dari kompleks Candi Cetho, kita akan bertemu dengan sebuah pos kecil. Di sini kita harus membeli karcis seharga Rp 3000/orang untuk tiket masuk ke candi Kethek dan puri saraswati. Biasanya petugas karcis suka nakal, duitnya diambil tapi karcisnya tidak diberikan.
Jalanan mendaki harus kita lalui sepanjang kurang lebih 500 meter. Hingga kita bertemu dsengan sungai kecil dengan air terjun kecil juga. Kita harus menyeberangi sungai kecil ini kemudian mendaki lagi.
Kali ini cukup mendaki sepanjang kurang lebih 300 meter dan kita sudah bisa melihat penampakan Candi Kethek. Di pintu masuk Candi ada sebuah pondok kecil yang bisa kita gunakan untuk beristirahat.
Berada di bawah rimbunnya dedaunan pinus, puncak candi yang berarti Monyet ini memang cocok digunakan sebagai lokasi meditasi maupun ruwatan. Pada puncak tertinggi candi ini terdapat altar pemujaan.
Aku juga sempat meditasi di sini. Suasananya tenang banget. Sayangnya kalau datang ke sini pas hari libur ada banyak pengunjung juga. Dan sebelnya mereka gak bisa menghargai kalau candi ini sebenernya adalah tempat ibadah.
Jadi suara pengunjung yang kadang berteriak sesukanya itu justru menggangu meditasi di sini. Untunglah di tempat ini intensitas hujannya tinggi. Dan rintik hujan dengan sopannya mengusir mereka. Kali ini pun aku bisa merasakan nikmatnya meditasi dibawah rintik air hujan yang jatuh diantara dedaunan pinus.
Bangunan Candi Kethek berupa punden berundak dengan komponen penyusun berupa batu-batu alam dalam ukuran besar dan kecil. Ada 7 teras dengan tangga berukuran kecil dan kemiringan yang curam menuju setiap teras. Seharusnya ada arca kura-kura kecil pada setiap tangga sebagai lambang dewa wisnu.
Sayangnya kita tidak akan bisa menjumpai arca-arca tersebut sekarang dan entah kemana perginya arca-arca itu tidak banyak orang yang tahu. Padahal dari arca kura-kura itu diketahui bahwa candi ini dibangun pada abad 15.
Selain arca , atap candi kethek juga sudah menghilang. Terdapat juga relief diantara batu-batu penyusun namun keadaannya sudah tidak mirip relief lagi. Padahal menurut sejarah, di candi ini terdapat 5 buah panil relief.
0 comments:
Posting Komentar