Tampilkan postingan dengan label fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fabel. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

Kulit Zebra Menjadi Hitam Dan Putih

Cerita Dari Namibia 

Di sebuah padang pasir terdapat sebuah kolam air yang dijaga oleh seekor Babun (monyet di Afrika). Tidak ada seekor binatang pun yang boleh meminum air dari kolam tersebut. 

“Kolam ini milikku.” Begitu Babun selalu berkata jika ada binatang lain yang datang dan ingin meminum air kolam. 

Saat itu bumi sangat panas dan hanya sedikit sekali ada sumber air. Binatang yang melewati padang pasir terpaksa harus menahan haus dan mencari sumber air yang lain. 

Untuk menjaga kolam air miliknya, Babun rela tinggal di tepi kolam dari pagi hingga pagi lagi. Jika malam tiba, Babun membuat api unggun untuk menghangatkan badannya dan melindungi dirinya dari binatang buas. 

Pada suatu hari, datang seekor kuda putih mendekati kolam. Kuda putih itu bernama Zebra. 

“Mau apa kau ke sini?” bentak Babun. Ia berharap Zebra akan takut dan pergi dari kolam seperti binatang yang lainnya. 

Akan tetapi Zebra tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun pada Babun. Zebra malah berjalan semakin mendekati kolam. 

“Hei. Kau tidak tuli bukan?” Teriak Babun marah dengan suara tinggi. 

“Aku haus, jadi aku akan minum air kolam ini.” Jawab Zebra dengan tenang. 

“Kolam ini milikku.” 

“Kolam ini milik siapapun yang melewati padang pasir ini.” Zebra berjalan semakin mendekati kolam. 

Babun terlihat semakin marah, “aku akan menghalangimu.” 

Zebra tetap tidak peduli dengan kata-kata Babun. Ia menundukkan kepalanya ke kolam bersiap akan meminum air kolam. 

“Kau ini memang binatang tak tahu diri.” Babun sangat marah dan menghampiri Zebra. 

Ketika Babun berusaha menarik kaki Zebra, dengan cepat Zebra menendangnya hingga Babun terpental dan pantatnya membentur batu. Sejak saat itu pantat Babun menjadi botak dan berwarna merah. 

Sementara itu Zebra kehilangan keseimbangan ketika menendang Babun. Ia terjatuh di bekas api unggun. Abu api unggun itu membuat kulitnya yang putih bersih menjadi belang-belang hitam dan putih. 

Pesan : Tidak ada gunanya menjadi anak yang serakah, karena anak yang serakah akan dibenci oleh teman-temannya.

Senin, 16 Juni 2014

Tiga Binatang Dan Serigala

Dongeng Skandinavia 


Di sebuah peternakan ada tiga ekor binatang yang masih kecil-kecil. Ketiga binatang itu adalah sapi, kambing dan biri-biri. Mereka bertiga harus berjuang menghadapi musim dingin yang bersalju agar bisa tetap bertahan hidup. Persediaan makanan di peternakan itu sangat sedikit sekali. 

Namun mereka semua bisa melewati masa-masa sulit itu dengan baik. Ketika musim semi tiba, ketiga binatang itu sudah bisa menikmati rumput hijau yang sangat banyak di peternakan. 

Karena makanan yang berlimpah, maka badan mereka menjadi gemuk. Tanpa mereka sadari, seekor serigala datang mengawasi dan sedang mencari kesempatan untuk bisa memangsa mereka satu persatu. Pada suatu hari serigala menemui kambing. Serigala yang licik, pura-pura baik pada kambing. 

“Bolehkah aku berkenalan denganmu?” tanya serigala ramah. 

“Tentu saja. Aku Raja Janggut. Kau lihat bukan janggutku yang panjang ini? Ini adalah senjata yang diberikan oleh raja penyihir padaku. Kau lihat juga dua tanduk hitam yang bisa merobek perut siapapun juga karena ini adalah pemberian dewa langit .” Kambing menjawab dengan raut muka menyeramkan. 

Tanpa berkata apa-apa lagi, serigala langsung pergi. Sebenarnya ia merasa takut pada kambing. Serigala kemudian menemui sapi dan pura-pura ingin mengenalnya. 

“Aku adalah Raja Tombak. Kau lihat ada dua mahkota berbentuk tombak di kepalaku ini. Ini adalah pemberian dewa api yang bisa membinasakan siapapun dengan sangat cepat.” Jawab sapi tak kalah menyeramkan. 

Serigala tambah ketakutan, tapi ia tetap ingin berusaha. “Siapa tahu aku bisa memangsa binatang yang satunya.” Pikir serigala sambil pergi menemui biri-biri. 

Kali ini jawaban biri-biri hampir sama dengan kedua temannya. “ Aku adalah Raja Godam. Kau lihat godam besar yang menjadi mahkotaku ini. Siapapun akan hancur jika aku terjang dengan godam pemberian dewa tanah ini.” 

Serigala yang sangat ketakutan langsung lari dan tidak pernah kembali lagi. Ketiga binatang itu bisa hidup dengan bahagia selama-lamanya.

Minggu, 15 Juni 2014

Kambing Pemberani

Dongeng Rusia 


Induk kambing tinggal bersama dengan kelima anaknya. Mereka mempunyai sebuah rumah kecil di pinggir hutan. Anak-anak kambing masih sangat kecil, mereka masih minum susu. Setiap hari induk kambing selalu pergi ke padang rumput untuk makan rumput sebanyak-banyaknya, agar anak-anaknya bisa meminum susunya dengan kenyang. 

Induk kambing tahu bahwa meninggalkan anak-anaknya di rumah sangat berbahaya. Ada serigala jahat yang selalu mengintai anak-anaknya. Tapi induk kambing yang pintar mempunyai cara untuk membuat anak-anaknya tidak mudah ditipu oleh serigala. 

"Jangan pernah membukakan pintu untuk orang lain. Kalau ibu datang pasti akan bilang “ibu pulang membawa susu.” Begitu kata induk kambing memberitahukan kata sandi yang ia gunakan. 

Pada suatu pagi induk kambing pergi ke padang rumput. 

“Kuncilah pintu rumah, nak. Ingat! Jangan membukakan pintu untuk siapapun kecuali ibu.” Pesan induk kambing sebelum pergi. 

Tanpa mereka ketahui serigala yang jahat telah mengintip rumah induk kambing sejak tadi. Serigala itu juga mendengar pembicaraan induk kambing dengan anak-anaknya. Melihat kelima anak kambing yang masih kecil-kecil, serigala jahat sangat ingin untuk memakannya. Maka setelah induk kambing pergi meninggalkan rumah dan sudah tidak terlihat lagi di jalan, serigala langsung menuju rumah induk kambing. 

“Ibu pulang membawa susu,” kata serigala menirukan suara induk kambing. 

Anak-anak kambing langsung membukakan pintu. Dengan cepat Serigala mengambil keempat anak kambing dan membawanya pergi. Anak kambing kelima tidak ikut terbawa karena bersembunyi di bawah meja. 

Ketika induk kambing datang, anak kambing kelima melaporkan kejadian itu kepada ibunya. Tentu saja induk kambing menjadi sedih. Tapi ia adalah induk kambing yang pemberani. 

“Aku harus menyelamatkan anak-anakku.” Kata induk kambing dalam hati. 

Bersama dengan seekor anaknya yang masih tersisa, induk kambing pergi ke tempat serigala. Di sana ia melihat serigala sedang tertidur pulas, sementara keempat anak-anak kambing terikat pada sebatang pohon. Rupanya serigala itu akan menjadikan anak-anak kambing ini makan malamnya. 

Induk kambing dengan berani mendekati Serigala. Setelah sangat dekat, ia langsung berteriak keras di telinga serigala ,“Ada kebakarannnnn.” 

Tentu saja serigala kaget. Ia terbangun dan langsung lari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Induk kambing dan seekor anaknya menyelamatkan keempat anak kambing yang terikat di pohon.

Laba-Laba Pendusta

Dongeng Estonia 

Seluruh binatang hutan merasa udara sangat panas. Tidak ada angin yang bertiup di sana. Biasanya angin selalu bertiup sehigga udara di hutan menjadi sejuk dan semua binatang yang hidup di dalam hutan itu menjadi sangat nyaman. 

“Ke mana perginya angin?” tanya rusa kepada binatang lain di hutan. 

“Mungkin dia tidur, mungkin dia kelelahan setelah berminggu-minggu bertiup.” Kata kelinci. 

“Kalau begitu mari kita mencari angin dan bilang padanya untuk segera bangun dari tidurnya. Kita semua di sini membutuhkan angin.” Usul gajah. 

“Tapi siapa yang akan mencari angin?” tanya burung. 

Seluruh binatang yang berkumpul di dalam hutan itu saling berpandangan satu sama lain. 

"Aku tidak bisa pergi, aku harus mencari makan untuk anak-anakku.” Kata rusa. 

Tiba-tiba laba-laba menunjuk dirinya sendiri, “biar aku saja yang pergi mencari angin. Aku tahu di mana angin berada.” 

Semua binatang yang ada di sana setuju laba-laba pergi mencari angin. Laba-laba kemudian berjalan menuju puncak gunung. 

“Biasanya angin tidur di balik batu di puncak gunung itu, jadi aku harus ke sana, ” pikir laba-laba. 

Dugaan laba-laba ternyata benar. Angin sedang tidur di balik sebuah batu besar. Laba-laba langsung menghampiri angin dan membangunkannya. 

"Angin…. Bangunlah. Seluruh binatang di hutan kepanasan. Mereka menunggu kedatanganmu membawakan mereka udara yang sejuk.” Kata laba-laba dengan suara keras. 

Angin membuka matanya sebentar, sepertiya ia marah, “kau ini mengganggu tidurku saja. Pergi sana. Nanti aku akan bangun sendiri kalau aku sudah puas tidur, tidak perlu kau repot-repot membangunkanku. Pulanglah sana, sesampainya kau di hutan aku pasti sudah bangun. Aku pasti bisa menyusulmu karena lariku sangat cepat.” 

Laba-laba meninggalkan angin. Ia berjalan perlahan menuruni gunung. Di tengah jalan laba-laba bertemu dengan lalat. Ia menceritakan apa yang terjadi kepada lalat. 

“Pasti sebentar lagi angin akan bangun, aku bisa terbang dengan cepat untuk mengabarkan hal ini kepada seluruh binatang di hutan.” pikir lalat. 

Lalat yang mempunyai pikiran jahat segera terbang menuju hutan, meniggalkan laba-laba yang berjalan perlahan. Sesampainya di hutan lalat mengatakan bahwa dirinya telah membangunkan angin. 

Tak lama kemudian angin sudah bangun dari tidurnya. Seluruh penghuni hutan mempercayai cerita lalat dan memperlakukan lalat sebagai pahlawan mereka. Semua binatang di hutan itu tidak tahu bahwa sebenarnya lalat telah berbuat curang kepada laba-laba. Mereka juga tidak tahu bahwa sebenarnya yang membangunkan angin adalah laba-laba. 

Maka ketika laba-laba sampai di hutan tidak satu binatang pun yang peduli padanya. BAhkan ketika laba-laba mengatakan bahwa sebenarnya ia yang teah membangunkan angin, semua binatang di hutan malah menertawakannya. Laba-laba menjadi sakit hati. Ia kemudian membuat jala-jala untuk menjebak lalat yang telah berbuat curang padanya.

Sabtu, 14 Juni 2014

Kadal Bermain Suling

Dongeng Haiti 

Ada dua ekor kadal yang tinggal di sebuah pohon besar. Yang satu bernama Nagari dan yang satunya lagi bernama Webubu. Nagari tinggal di dahan pohon sebelah bawah dan Webubu tinggal di dahan pohon sebelah atas. 

Setiap hari pohon tempat mereka berdua tinggal tidak pernah sepi. Ada banyak kadal lain yang datang untuk mendengarkan suara merdu Nagari. Semua kadal di hutan sudah tahu bahwa suara Nagari sangat merdu. Webubu sangat senang mendengar nyanyian Nagari setiap hari. 

“Seandainya aku juga bisa bernyanyi seperti Nagari,” pikir Webubu suatu hari. 

Setiap hari Webubu berlatih menyanyi, tapi tetap saja ia merasa suaranya tidak bisa semerdu suara Nagari. 

“Mungkin sebaiknya aku belajar bernyanyi pada Nagari saja.” 

Webubu mendatangi Nagari ,”Maukah kau mengajariku bernyanyi?” 

“Dengan senang hati aku akan mengajarimu Webubu. Kau boleh belajar kemari kapan pun kamu mau. “ jawab Nagari. 

Webubu merasa sangat senang. Setiap hari Nagari mengajari teknik bernyanyi pada Webubu. Tapi setelah lama Webubu belajar, ia merasa bahwa dirinya tidak bisa menguasai teknik bernyanyi dengan baik. 

“Sepertinya aku adalah murid yang bodoh ya Nagari.” Kata Webubu hampir putus asa. * “Menurutku tidak begitu. Kau adalah murid yang pandai Webubu. Mungkin saja kemampuanmu memang tidak pada menyanyi. Mungkin kau bisa belajar bermain musik. “ saran Nagari. 

Keesokan harinya Webubu berjalan-jalan ke pinggir hutan. Kebetulan ia melewati tanaman bambu, saat itu angin sedang bertiup. Batang-batang pohon bambu itu saling bergesakan dan mengeluarkan bunyi yang indah. Tiba-tiba Webubu mendapat akal, kemudian ia memotong sebuah batang bambu yang kecil dan membuat lubang. Webubu telah membuat sebuah seruling. Ia kemudian mencoba untuk meniup seruling tersebut. 

Tidak begitu lama, Webubu sudah bisa menguasai teknik bermain seruling dengan sendirinya. Tidak ada satu guru pun yang mengajarinya. Webubu kemudian memainkan lagu dari sulingnya itu. Alunan lagu merdu dari seruling Webubu membuat kadal di hutan tertarik. 

Mulai saat itu Webubu memainkan seruling dan Nagari bernyanyi untuk menghibur semua kadal di dalam hutan. Kedua kadal itu ternyata mempunyai kemampuan yang berbeda. Nagari pintar bernyanyi dan Webubu pandai bermain seruling.

Rubah Menggembala Domba

Dongeng Norwegia 

Seorang wanita mempunyai domba yang sangat banyak. Karena sudah tua, wanita itu tidak mampu lagi menggembala domba-dombanya. Oleh karena itu ia mencari siapapun yang bisa menjadi penggembala bagi domba-dombanya. 

Serigala yang tinggal di tepi hutan mendengar hal tersebut. Ia kemudian mendatangi si wanita tua untuk menjadi penggembala domba. Serigala itu berharap ia bisa memakan satu domba setiap hari. 

“Domba itu sangat banyak, jadi wanita tua itu juga tidak akan tahu kalau aku memakan satu dombanya setiap hari.” Pikir Serigala. 

Ternyata si wanita tua memberikan sebuah pertanyaan untuk memastikan bahwa dombanya akan aman. 

“Bagaimana kau nanti memanggil domba-dombaku?” 

“Aaaauuuuu……………”Serigala melolong panjang. 

“Kau tidak bisa memanggil dombaku dengan cara seperti itu, mereka akan lari mendengar suaramu yang menakutkan itu.” 

Serigala pergi dengan kecewa. Tak lama kemudian datang beruang yang juga ingin menjadi gembala domba. 

Wanita tua itu memberikan pertanyaan yang sama, “bagaimana nanti kau akan memanggil domba-dombaku?” 

“Woowwwwww…….woooooowwwwww.” teriak beruang. 

Wanita tua itu menggelengkan kepalanya, “Kau juga tidak bisa menjadi gembala bagi domba-dombaku. Baru mendengar suaramu saja mereka semua pasti akan takut.” 

Berikutnya yang datang adalah Rubah. Kali ini wanita tua itu juga memberikan pertanyaan yang sama. 

“Bagaimana nanti kau akan memanggil domba-dombaku?” 

Rubah sebenarnya bersembunyi di dekat rumah wanita tua ketika Serigala dan Beruang datang dan meminta untuk menjadi gembala, sehingga Rubah tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh si wanita tua. 

“Aku akan bernyanyi untuk mereka. Seperti ini, damdimdam……. didididaadamdammmm.” Jawab rubah dengan wajah ceria. 

Wanita tua sangat senang dengan jawaban Rubah, “Baiklah, besok pagi kau boleh menjadi gembala domba-dombaku.” 

Rubah sangat senang, keesokan harinya ia membawa domba-domba itu ke padang rumput hijau yang luas. 

“Hari ini aku akan makan banyak,” kata Rubah sambil memakan satu ekor domba. 

Tanpa terasa, ketika sore hari tiba Rubah sudah menghabiskan separuh domba-domba milik wanita tua itu. Keesokan harinya Rubah sudah menghabiskan seluruh domba milik wanita tua. Setelah itu Rubah menghilang entah kemana. Wanita tua itu sekarang tidak mempunyai satu domba pun.

Jumat, 13 Juni 2014

Persabahatan Anjing dan Kanguru

Dongeng Papua Nugini 

Kanguru dan anjing sudah lama bersahabat baik. Mereka selalu pergi bersama-sama. Rumah mereka pun saling berdekatan. Di mana ada kanguru pasti di situ ada anjing. Kalau Kanguru sakit, maka anjing akan merawatnya hingga sembuh, begitu juga sebaliknya, kalau anjing yang sakit maka kanguru akan dengan senang hati menemani dan membantu apapun yang diperlukan anjing hingga ia sembuh. 

Pada suatu pagi, Kanguru merasa sangat lapar. Ia pergi ke rumah anjing untuk mengajak sahabatnya itu mencari makan ke hutan. Saat itu anjing masih tertidur pulas. Kanguru tidak tega untuk membangunkannya. 

"Sepertinya anjing sangat lelah sehingga tidurnya pulas sekali. Kasihan kalau aku membangunkannya. Lebih baik aku pergi saja sendiri dan membawakan anjing makanan.” Pikir Kanguru. 

Kanguru kemudian pergi mencari makanan di hutan. Saat itu ia melihat pohon apel yang penuh dengan buah. Sayangnya, Kanguru tidak dapat mengambil buah yang berada di atas pohon, jadi ia hanya memakan buah apel yang jatuh. Karena sangat lapar, maka Kanguru menghabiskan buah apel itu dengan cepat. Setelah kenyang, tiba-tiba anjing datang menghampiri dirinya. 

“Mengapa kau tidak mengajakku Kanguru, tidak biasanya kau pergi sendiri.” Kata Anjing sedikit kecewa. 

“Tadi aku ke rumahmu, tapi kau masih terlelap tidur. Aku tidak tega untuk membangunkanmu. Jadi aku pergi sendiri dan berniat akan membawakan makanan untukmu.” Jawab Kanguru, namun ia tidak mengatakan bahwa dirinya sudah makan apel. 

“Apakah kau sudah makan?” tanya anjing lagi. 

“Belum. “ Kanguru tidak mengaku kalau dirinya sudah kenyang. 

“Kalau begitu kita pergi mencari makan.” 

Anjing dan Kanguru berjalan bersama mencari makan. Di pinggir jalan ada kotoran monyet yang berserakan. 

“Aku belum pernah melihat makanan ini sebelumnya, mungkin saja enak.” Kata anjing. 

Kanguru sebenarnya sudah tahu kalau itu adalah kotoran monyet, tapi sepertinya anjing sangat lapar dan ingin makan, maka ia berpikir untuk berbuat iseng pada anjing. 

“Kalau begitu makanlah, sepertinya kau lapar. Lagi pula jumlahnya hanya sedikit. Biarlah aku mencari makanan yang lain saja nanti.” Saran Kanguru sambil tersenyum dalam hati. 

Anjing kemudian memakan kotoran monyet itu. Sebenarnya anjing merasa bahwa makanan yang ia makan tersebut sangat tidak enak. Tapi demi menghormati Kanguru yang rela tidak makan demi dirinya, maka anjing terus memakan kotoran monyet itu hingga habis. 

Sesampainya di rumah Kanguru masih berpura-pura belum makan dan monyet terus mendesak sahabatnya itu untuk makan. Karena tidak tega terus membohongi anjing, akhirnya Kanguru mengaku bahwa dirinya telah kenyang makan Apel dan memberitahu bahwa yang dimakan oleh Anjing tadi adalah kotoran monyet. 

Mendengar pengakuan Kanguru, anjing sangat marah. Sejak saat itu persahabatan antara Kanguru dan Anjing putus. Bahkan Anjing sangat membenci Kanguru hingga sekarang.

Kucing Kehilangan Ekornya

Dongeng Dari Irak 

Kucing merasa kelelahan setelah sepanjang hari bermain, kemudian beristirahat di bawah pohon rindang. Dari kejauhan ia melihat seorang perempuan tua sedang meletakkan semangkuk susu di depan pintu rumahnya. Kucing itu mengira wanita tua tersebut sengaja membuang susu, maka ia pun berlari menghampiri mangkuk itu serta langsung meminum susu yang ada di dalamnya. Baru beberapa teguk, wanita itu keluar dan langsung marah. 

“Apa yang kau lakukan dengan susuku.” Wanita itu mengayunkan tangannya ingin memukul kucing, tapi dengan gesit kucing menghindar sehingga hanya ekornya yang tertangkap. Karena kesal, wanita itu mematahkan ekor kucing dan mengambilnya. 

“Kembalikan ekorku.” Pinta kucing dengan sedih. 

“Akan kukembalikan kalau kau juga mengembalikan susuku.” 

Kucing pergi ke tempat sapi untuk meminta susu, namun sapi hanya akan memberikan susu kalau kucing memberinya jerami. Kucing kemudian meminta jerami pada Petani. 

“Berikan aku jerami untuk aku berikan kepada sapi, agar ia mau memberikan susunya padaku. Susu itu akan aku serahkan pada wanita tua agar ekorku bisa kembali.” Pinta kucing pada Petani. 

“Aku tidak akan memberikan jerami ini dengan gratis. Kau bisa mendapatkan jeramiku setelah memberiku roti.” Kata petani. 

Kucing menemui tukang roti, “berikan aku sepotong roti.” 

“Untuk apa?” tanya tukang roti. Ia heran baru kali ini ada kucing meminta roti padanya, biasanya kucing selalu mencuri ikan yang ada di meja makan. 

“Akan aku berikan pada Petani, supaya ia mau memberiku jerami. Jerami itu nantinya akan aku serahkan pada sapi agar ia mau memberiku susu dan susu itu akan aku berikan kepada wanita tua agar ia mau mengembalikan ekorku.” Kucing itu bercerita dengan sedih. 

Melihat kesedihan kucing, tukang roti itu merasa kasihan, maka Ia pun memberikan sepotong roti yang cukup besar. 

“Aku berikan kau sepotong roti besar, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak pernah lagi mencuri ikan dari meja makan.” Kata si tukang roti . 

Kucing menerima roti itu dengan senang hati. Ia kemudian berlari ketempat petani dan di sana ia mendapatkan jerami. Kucing memberikan jerami itu untuk sapi, dan sapi menukarnya dengan susu untuk diberikan kepada wanita tua. Kucing itu akhirnya mendapatkan ekornya kembali.

PESAN 
Berusahalah dengan sekuat tenaga untuk memperbaiki sebuah kesalahan yang pernah kita lakukan, agar kita selalu dikenal sebagai anak yang baik.

Kamis, 12 Juni 2014

Burung Hantu dan Gajah Bersahabat

Dongeng Nepal 

Burung hantu dan gajah tinggal di tempat yang sama yaitu sebatang pohon besar di tengah hutan. Bedanya, burung hantu tinggal di dahan pohon bagian atas, sedangkan gajah tinggal di bawah pohon. Namun begitu keduanya selalu bercerita dan saling membantu satu sama lain. 

Pada suatu malam ketika gajah akan tidur, tiba-tiba datang sekelompok setan penghuni hutan. Raja setan langsung berteriak memberi perintah untuk menangkap gajah. 

“Itu dia gajah yang aku cari.” Teriak raja setan. 

Setan-setan yang mengikuti raja setan langsung mendekati gajah. Tentu saja gajah sangat ketakutan hingga ia tidak bisa bicara sepatah kata pun. 

“Benarkah ini gajah yang ada dalam mimpi paduka raja setan?” tanya salah satu setan sebelum menangkap gajah. 

“Ya, benar. Inilah gajah yang ada dalam mimpiku. Aku bermimpi telah memakan daging gajah yang lezat. Kalian harus segera menangkap gajah ini. Aku ingin mimpiku menjadi kenyataan. “ kata raja setan. 

“Apakah dalam mimpimu aku juga ikut menikmati daging gajah ini?” tanya ratu setan. 

Raja setan sangat patuh pada ratu setan, maka ia pun memberikan jawaban bohong demi membuat ratu setan gembira, “tentu saja ratu, kau pun ikut menikmati daging gajah panggang bersamaku.” 

Sementara itu gajah sangat ketakutan. Burung hantu yang sejak tadi melihat kejadian itu dari atas pohon segera turun untuk menyelamatkan sahabatnya ini dari sekelompok setan yang jahat itu. 

Burung hantu kemudian terbang mendekati ratu setan dan langsug memeluknya. 

“Ini dia calon pengantinku,” kata burung hantu. 

Tentu saja Ratu setan merasa jijik dipeluk oleh burung hantu,” hai! Apa maksudmu berkata seperti itu.” 

“Aku bermimpi menikah denganmu, ratu setan. Maka dari itu aku ingin mimpiku menjadi kenyataan. ” Jawab burung hantu tenang. 

Ratu setan menjadi tidak senang dengan keadaan itu. Ia pun berkata pada Raja setan, “apakah kau akan membiarkan aku menjadi istri burung hantu?” 

“Oh, itu hanya mimpi. Menurutku mimpi itu tidak harus menjadi kenyataan, Ratu. Lihatlah, aku juga bermimpi telah memakan daging gajah, dan sekarang aku sudah menemukan gajah ini, tapi aku malah akan melepaskan gajah ini sekarang.” 

Raja setan tidak ingin kehilangan Ratu setan, maka jalan satu-satunya adalah ia harus melepaskan gajah. Raja dan Ratu setan juga para pengikutnya segera pergi meninggalkan gajah dan burung hantu. Mereka kembali ke dalam hutan. 

Gajah berterima kasih kepada burung hantu yang telah menolong dirinya. Sejak saat itu persahabatan Gajah dan Burung Hantu semakin kuat. Keduanya saling menolong ketika saling membutuhkan dan selalu berbagi kegembiraaan maupun kesedihan.

Rubah Menolong Kuda

Dongeng Jerman 


Seekor kuda yang sudah tua berjalan pelan. Kelihatannya ia sangat sedih. Di pinggir hutan kuda itu bertemu dengan rubah. 

“Apa yang terjadi padamu, kuda?” tanya rubah ramah. 

“Aku diusir dari peternakan. Petani itu bilang kalau sekarang aku sudah tua dan tenagaku sudah tidak sekuat dulu lagi.” Jawab kuda sedih. 

“Apa petani itu tidak memberimu kesempatan?” 

“Dia bilang aku boleh kembali kalau tenagaku lebih kuat dari seekor singa.” 

Rubah berpikir sejenak. Ia mencari akal untuk menolong kuda. “Kalau begitu kau berpura-pura tidur di sini. Aku akan membuktikan bahwa kau lebih kuat dari singa.” 

Kuda itu menuruti perintah rubah. Sementara itu rubah berlari ke dalam hutan mencari singa. 

“Sepertinya kau lapar singa.” Kata rubah ketika bertemu singa. 

“Iya, apa kau akan memberiku makanan?” tanya singa penuh harap. 

“Ada seekor kuda mati di pinggir hutan, aku akan mengantarmu ke sana.” Rubah dan singa pergi ke pinggir hutan. 

“Kuda ini besar sekali, aku tidak mungkin menghabiskan sendiri. Tapi bagaimana caranya aku membawa kuda ini ke rumahku agar bisa aku makan bersama dengan keluargaku?” tanya singa pada rubah. 

“Tenang saja singa, aku akan membantumu. Aku akan mengikat kuda ini pada kaki dan tanganmu agar bisa kau tarik ke dalam hutan.” Rubah mengeluarkan sebuah tali yang besar. 

“Baiklah, aku setuju.” Singa itu sangat senang karena akan mendapat makanan yang sangat besar, sehingga ia tidak berpikir panjang lagi dan menyetujui saran rubah. Tanpa curiga sedikit pun, singa mengijinkan rubah mengikat kaki dan tangannya. 

Setelah keempat kaki singa terikat, rubah kemudian membangunkan kuda. Ketika kuda itu berdiri justru singa lah yang ditarik oleh kuda. 

“Sekarang tariklah singa ini dan bawalah ke peternakan. Katakan pada Pak Petani bahwa kau sudah berhasil mengalahkan singa. Ini adalah bukti bahwa tenagamu sekarang sudah melebihi tenaga singa.” Saran rubah. 

Setelah sampai di peternakan, Pak petani mengijinkan kuda kembali tinggal di peternakan. Petani itu melepaskan ikatan Singa dan membiarkannya pergi. Singa yang lapar tidak mendapat apa-apa, karena kebodohannya ia bisa dikelabui oleh rubah yang cerdik.

Rabu, 11 Juni 2014

Seandainya Buaya Lebih Pintar

Dongeng Kongo 


Buaya tinggal di sebuah gua kecil pinggir sungai. Sungai itu seringkali didatangi oleh ayam, kelinci, bebek dan juga binatang lain. Binatang-binatang itu ke sungai untuk minum. Tapi mereka selalu berhati-hati agar tidak terlihat oleh buaya. 

Pada suatu hari ayam pergi ke sungai sendiri. Saat itu buaya sedang mengawasi sungai untuk mencari mangsa. Ia sangat lapar karena sudah tiga hari tidak mendapat makanan. Oleh karena itu kedatangan ayam tidak ia sia-siakan. Buaya kemudian berjalan menghampiri ayam. Tapi begitu moncongnya sudah terbuka lebar ayam itu memohon padanya. 

“Jangan kau mangsa aku, saudaraku, nanti kau akan menyesal.” Teriak ayam. 

Buaya menjadi ragu mendengar ayam itu mengatakan bahwa ia adalah saudara ayam. Maka dengan mudahnya ayam kemudian melarikan diri. 

Pada hari berikutnya seekor bebek pergi ke sungai. Kali ini buaya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia berjalan mendekati bebek. Sama seperti ayam, bebek ini juga memohon padanya. 

“Jangan saudaraku. Kalau kau memangsa aku maka kau akan menyesal nanti.” Kata bebek. 

Buaya kembali ragu karena bebek juga mengatakan bahwa ia juga saudara. Melihat keraguan buaya, bebek langsung terbang melarikan diri. Kali ini buaya gagal lagi untuk mendapatkan makanan. 

Karena penasaran, buaya kemudin menemui temannya. Ia ingin menanyakan apakah benar bebek dan ayam adalah saudara buaya. 

Tentu saja teman buaya tertawa mendengar pertanyaan buaya yang bodoh ini, “ha..ha….. mereka itu memang saudara kita.” 

“Benarkah?” tanya buaya. 

"Iya benar. Mereka sama-sama bertelur, seperti kita juga bertelur. Jadi binatang yang sama-sama bertelur adalah saudara.” Jawab temannya. 

“Mengapa aku tidak berpikir seperti itu ya. Kalau tahu seperti itu langsung saja kau makan mereka.” Kata buaya kecewa. 

Seandainya saja buaya itu lebih pintar, maka ia tidak akan kelaparan

Semut Dan Kupu-Kupu

Dongeng Spanyol

Semut berjalan-jalan menghirup udara pagi. Ia merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang paling disayang oleh Tuhan. Dirinya tidak pernah kelaparan karena makanan yang melimpah ada di mana-mana. 

Ia juga merasa sangat aman karena tidak ada satu binatang pun yang akan memangsa dirinya. Bahkan ia mempunyai rumah yang sangat nyaman di dalam tanah. Di rumahnya ini semut agar aman dari gangguan hujan maupun badai. 

Di sebuah kebun, semut melihat ada sebuah kepompong yang menempel di batang pohon. 

“Kasihan sekali kau ini, lihatlah tubuhmu yang terbalut benang tebal.” Kata semut pada kepompong. 

Namun kepompong tetap saja diam. Ia tidak bisa menjawab karena pada saat menjadi kepompong ia harus bertapa. Tidak makan, tidak minum dan juga tidak berbicara. 

“Ha…ha….. bahkan berbicara pun kau tidak bisa.” Semut tertawa terpingkal-pingkal melihat penderitaan kepompong. 

Semut kemudian meneruskan langkahnya sambil menyombongkan diri, “memang tidak ada binatang yang semujur diriku.” 

Beberapa hari kemudian, semut kembali berjalan-jalan di kebun. Saat itu hujan baru saja turun dan semua bagian tanah di kebun itu basah, bahkan ada beberapa tempat yang berlumpur. 

Semut begitu menikmati sejuknya angin pagi sehingga ia tidak menyadari bahwa jalan yang ada dihadapannya adalah sebuah kubangan lumpur. 

“Auuuuu……” Semut itu terperosok dalam kubangan. Dalam waktu singkat badannya hampir saja tenggelam. 

Tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang di atasnya. Semut meminta pertolongan kupu-kupu. 

“Kasihan sekali semut yang malang.” Kata kupu-kupu sambil terbang di atas semut. 

“Tolonglah aku kupu-kupu, aku hampir tenggelam, lumpur ini begitu kuat menarikku.” Kata semut dengan suara lemah. 

“Baiklah.” Kupu-kupu mengangkat semut dari kubangan lumpur kemudian meletakkannya di atas rumput. 

Terima kasih kupu-kupu kau telah menolongku.” 

“Aku pasti menolongmu semut, walaupun kau telah menghinaku ketika aku menjadi kepompong dulu.” Jawab kupu-kupu dengan tersenyum. 

Semut malu atas sikapnya yang sombong. Ternyata kupu-kupu adalah binatang yang sangat baik dan tidak dendam atas perlakuan buruk semut dahulu.

Selasa, 10 Juni 2014

Ulat Bulu Pemberani

Dongeng Kenya 

Seekor ulat bulu berjalan perlahan-lahan mencari makan, sambil menikmati indahnya hutan. Tiba-tiba awan menjadi gelap pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Kebetulan di dekat sana, ada sebuah lubang yang menjadi rumah seekor kelinci. Tanpa berpikir panjang, ulat bulu masuk ke dalam rumah kelinci. Di dalam lubang itu udara terasa hangat, walaupun di luar sana hujan sudah turun dengan derasnya. 

Ulat bulu memanggil-manggil penghuni lubang tersebut, tapi rupanya Kelinci tidak ada di sana. Ketika bersuara, Ulat bulu mendengar suaranya menjadi besar karena bergema. 

Setelah hujan reda Kelinci kembali ke rumahnya, tapi Kelinci merasa ada sesuatu yang aneh di luar lubang rumahnya. 

"Mengapa daun-daun di sini berlubang?” tanya Kelinci dalam hati. 

Kelinci juga melihat ada jejak kaki kecil tepat di depan pintu rumahnya. Karena penasaran kelinci berteriak dari luar. 

“Siapa yang berada di dalam rumahku?” teriak kelinci dengan suara lantang. 

Ulat bulu yang berada di dalam rumah Kelinci menjawab, “Aku. Binatang terbesar yang bisa mengalahkan gajah .” 

Suara ulat bulu terdengar sangat besar karena suaranya di dalam lubang itu bergema. Mendengar suara yang besar itu, Kelinci percaya bahwa yang berada dalam lubang rumahnya adalah seekor binatang yang sangat besar. 

"Tapi dari mana binatang sebesar itu bisa masuk ke rumahku yang kecil.” Pikir kelinci. Karena penasaran Kelinci memanggil Gajah. 

“Sekarang Gajah sudah berada di depan rumahku. Jika benar kau adalah binatang besar yang bisa mengalahkan Gajah, sekarang keluarlah. Hadapi Gajah.” Teriak Kelinci lagi. 

kelinci dan Gajah menunggu beberapa saat. Sementara itu Ulat bulu berjalan keluar dengan malu-malu. 

“Ini adalah aku, Kelinci, “ jawab Ulat bulu ketika sampai di luar lubang. 

Suaranya menjadi sangat kecil karena sudah tidak bergema lagi. Kelinci dan Gajah menarik nafas lega.

Ayam Betina Mencari Cincin

Dongeng Philiphina 


Pada jaman dahulu, burung elang ingin menikah dengan ayam betina. Burung elang telah memberikan sebuah cincin kepada ayam betina. Cincin itu diikatkan pada sebuah tali yang digantungkan pada leher ayam betina. 

“Kau harus menjaga cincin ini baik-baik.” Pesan burung elang pada ayam betina. 

“Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik.” Janji ayam betina. 

Setelah burung elang pergi, ayam jantan datang menemui ayam betina. 

“Cincin apa yang menggantung dilehermu?” tanya ayam jantan. 

"Ini cincin pemberian burung elang karena ia akan menikah denganku.” Jawab ayam betina. 

“Kau ini seekor ayam, seharusnya kau menikah dengan bangsa ayam juga.” 

Tanpa disangka, ayam jantan mengambil cincin yang tergantung pada leher ayam betina dengan cepat. Ayam jantan membuang cincin tersebut. Sementara itu ayam betina tidak bisa berbuat apa-apa. 

Keesokan harinya burung elang kembali menemui ayam betina. Ketika melihat cincin yang ia berikan tidak ada, burung elang menjadi curiga. 

“Kemana cincin pemberianku kemaren.” Tanya burung elang curiga. 

“Cincin itu terjatuh,” ayam betina mencoba berbohong. 

Namun burung elang bisa membaca raut muka ayam betina. 

“Aku tahu kau bohong.” Kata burung elang marah. 

Ayam betina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia gemetar melihat kemarahan burung elang. 

“Baiklah kalau begitu. Berarti kau telah mengingkari janjimu, ayam betina. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu dan keturunanmu. Sejak saat ini kau harus tetap mencari cincin pemberianku. Dan aku akan memakan semua anak-anakmu.” 

Setelah berkata demikian, burung elang melesat terbang ke udara. Hingga sekarang ayam betina selalu saja menggaruk-garuk tanah untuk mencari cincin pemberian burung elang yang hilang.

Senin, 09 Juni 2014

KIsah Dua Merpati

Dongeng Denmark 

Dua kakak beradik merpati tinggal di sebuah pohon di dalam hutan. Tempat itu adalah tempat yang aman untuk mereka tinggal. Rumah mereka tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan hutan, sehingga tidak akan terlihat oleh pemburu. Kakak merpati sangat menyayangi adiknya. 

“Aku ingin terbang ke luar hutan.” Kata adik merpati suatu hari. 

“Kau masih terlalu kecil, dik. Di luar sana banyak sekali bahaya yang bisa menyerang kita.” Jelas kakak merpati. 

“Kata teman-temanku, di luar sana sangat indah.” 

“Di luar sana ada burung elang yang siap menerkam kita dengan kukunya yang panjang dan besar. Belum lagi bahaya dari para pemburu.” 

Rupanya merpati kecil tidak menuruti kata-kata kakaknya. Diam-diam merpati kecil keluar dari sarangnya dan terbang bebas menuju daerah pinggiran hutan. Ia sangat senang melihat pemandangan yang sangat indah. Merpati kecil terbang melewati awan putih dan melihat gunung-gunung serta lembah dari atas. 

“Seandainya kakak mau ikut berpetualang denganku, ia pasti akan senang melihat pemandangan yang indah ini.” Kata merpati kecil dalam hati. 

Belum lama merpati kecil itu terbang, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang besar berada tepat di atasnya. Merpati kecil menengok ke atas untuk mencari tahu apa yag terjadi. Ternyata di atas merpati kecil ada burung elang dengan sayapnya yang lebar dan kaki dengan kuku-kuku yang tajam siap mencengkeram. Merpati kecil mempercepat terbangnya, namun sayap burung elang itu dengan kuat memukul dirinya. Hingga merpati kecil tidak bisa menjaga keseimbangan dan ia pun jatuh di sebuah pohon. 

Merpati kecil mengerang kesakitan, karena tubuhnya membentur kayu yang keras. Tapi belum juga sakit yang ia rasakan hilang, tiba-tiba ada sebuah batu mengenai dirinya. 

“Awww….” Teriak merpati kecil kesakitan. 

Ternyata di bawah pohon tempatnya hinggap, ada anak-anak yang membawa ketapel, dan menyerang merpati kecil dengan tembakan batu. Merpati kecil merasa dirinya dalam bahaya besar. Dengan sekuat tenaga, ia terbang dengan sayap yang terluka dan seluruh tubuh yang sakit. 

Akhirnya merpati kecil sampai di saragnya. Kakak merpati gembira melihat adiknya datang kembali walaupun penuh dengan luka. Dengan sabar kakak merpati merawat adik nya hingga sembuh dengan penuh kasih sayang. 

"Maafkan aku yang tidak menuruti nasehat kakak.” Kata merpati kecil sambil menangis dipelukan kakaknya.   

Kambing Yang Bijaksana

Dongeng Kanada 

Sekelompok kambing tinggal di sebuah lembah yang subur. Tempat itu dipilih karena di sana banyak sekali rumput hijau, sehingga kambing-kambing yang tinggal di tempat itu bisa makan kenyang setiap hari dan tidak akan kelaparan. 

Pada suatu hari datang seekor serigala ke tempat itu. Pertama-tama serigala hanya mengawasi kambing-kambing itu makan. Lama-kelamaan rasa lapar datang. Dengan sekali gerakan, serigala itu dapat dengan mudah menyergap seekor kambing dan memakannya dalam waktu yang singkat. Serigala pulang ke rumahnya dalam keadaan sangat kenyang. 

Melihat kedatangan serigala, kambing-kambing yang sedang makan rumput itu berlari ketakutan. Salah satu dari mereka mendatangi seekor kambing tua yang bijaksana. 

“Ada seekor serigala yang sudah mengetahui tempat tinggal kita.” Lapor salah satu kambing 

“Kami tahu kau adalah kambing paling tua dan bijaksana diantara semua kambing yang ada di tempat ini. Jadi selamatkan kami semua dari bahaya. KAmi tidak akan tenang makan rumput, kami takut kalau sewaktu-waktu serigala itu datang lagi dan memakan salah satu diantara kami.” Sambung yang lainnya. 

Kambing tua yang bijaksana itu berpikir sejenak, kemudian dia berkata, “baiklah kalau begitu. AKu tahu apa yang harus aku lakuakan sekarang. Serigala itu sekarang pasti sedah kenyang, empat atau lima hari lagi barulah dia lapar dan datang kembali untuk mencari makanan di sini. Jadi kita akan memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan sebaik-baiknya.” 

Kambing tua itu kemudian pergi ke tebing yangmenjulang tinggi di padang rumput. Dengan susah payah, kambing tua itu memanjat tebing. Di atas tebing itu, banyak ditumbuhi lumut. Ia pun mencoba memakan lumut itu, walaupun rasanya tidak seenak rumput, tapi lumut itu bisa membuatnya kenyang. 

Kemudian ia berteriak dari atas tebing, “Hai…… lihat lah ke atas. Sekarang aku berada di tempat yang aman. Serigala tidak bisa memanjat tebing itu, tapi aku bisa dan aku yakin kalian semua pasti bisa. Jadi, siapapun yang ingin selamat dari serangan serigala, pindahlah kemari.” 

Sekelompok kambing yang sedang makan rumput mendongakkan kepalanya ke atas. Salah satu diantara mereka bertanya, “apakah di atas sana juga ada rumput yang enak dan banyak seperti di sini?” 

“Di sini hanya ada lumut, rasanya memang tidak seenak rumput, tapi lumut bisa membuat kita kenyang. Sekarang pilihannya adalah maka rumput yang enak tapi jiwa kalian terancam atau makan lumut tapi kalian selamat dari incaran serigala?” jawab kambing tua dengan bijaksana. 

Satu persatu dari kambing-kambing itu kemudian mencoba memanjat tebing. Walaupun sulit, tapi mereka berusaha dengan sekuat tenaga. Lebih baik berusaha keras dari pada mati sia-sia dimakan oleh serigala. Akhirnya seluruh kambing itu pindah ke atas tebing. 

Ketika datang kembali, serigala sudah tidak melihat satu ekor kambing pun di padang rumput. Ketika kepalanya melihat ke atas tebing, barulah ia tahu bahwa sekelompok kambing itu telah berpindah ke atas tebing. Serigala sudah tidak punya harapan lagi untuk makan kambing, karena tidak mungkin baginya untuk bisa memanjat tebing yang tinggi itu.

Minggu, 08 Juni 2014

Hyena Si Penghasut

Dongeng Afrika Selatan 


Sudah lama Hyena bermusuhan dengan Serigala. Hyena merasa iri karena Singa si raja hutan lebih dekat dengan Serigala. Hyena selalu mencari cara untuk menjauhkan Serigala dengan Singa, agar setelah Serigala pergi ia bisa menjadi binatang yang paling dekat dengan Singa si raja hutan. Kalau sudah begitu, pasti seluruh binatang di hutan akan takut kepadanya. 

Pada suatu ketika, Singa si Raja hutan jatuh sakit. 

“Ini adalah kesempatanku untuk menynigkirkan Serigala,” pikir Hyena. 

Maka Hyena segera pergi menemui Serigala, “Singa si raja hutan sedang sakit.” 

“Kalau begitu aku harus mencarikan obat untuknya.” Kata Serigala yang sangat peduli pada kesehatan dan keselamatan raja hutan. Maka tidak heran kalau Singa si raja hutan lebih sayang dengan serigala dari pada dengan Hyena. 

“Benar sekali Serigala. Kau adalah binatang yang paling berani. Aku dengar di puncak gunung ada tabib sakti yang pasti bisa mengobati Singa.” Hyena tahu bahwa perjalanan ke puncak gunung sangat berbahaya. Ia berharap Serigala akan celaka dan mati dalam perjalanan ke sana sehingga tidak akan pernah kembali lagi. 

Demi kesembuhan Singa, Serigala kemudian berlari menuju puncak gunung. Ia tidak peduli pada perjalanan yang bisa membahayakan dirinya. Sementara itu Hyena kembali ke tempat Singa. Di sana sudah berkumpul binatang yang ada di hutan, mereka datang untuk menjenguk raja mereka yang sedang sakit. 

Singa si raja hutan heran karena Serigala belum menengok dirinya. Ia kemudian bertanya kepada Hyena. 

“Kemana Serigala? Mengapa ia tidak ada di sini ketika aku sakit?” 

Hyena yang jahat malah membuat cerita bohong tentang Serigala,”tadi serigala bilang padaku akan pergi berlibur.” 

"Keterlaluan Serigala. Aku sakit, dia malah berlibur.” Singa si raja hutan menjadi marah mendengar jawaban Hyena. 

“Kalau begitu, aku perintahkan kau membawa pasukan untuk menangkap Serigala.” Perintah Singa. 

Hyena merasa senang karena siasatnya berhasil. Ia bersama sepasukan binatang pengawal raja hutan kemudian berlari mengejar serigala. Di tengah jalan menuju puncak gunung Hyena berhasil menangkap Serigala dan membawanya kehadapan raja hutan. Hyena berharap Serigala akan diberikan hukuman mati oleh Singa si raja hutan. 

“Mengapa kau pergi berlibur Serigala padahal kau tahu aku sedang sakit?” tanya Singa ketika Serigala sudah berada di hadapannya. 

Serigala tahu bahwa Hyena yang jahat telah menghasut Singa dan mengatakan hal buruktentang dirinya. Namun Serigala ternyata binatang yang pintar, sehingga ia pun berusaha memperbaiki namanya di hadapan Singa si raja hutan. 

“Hamba tahu bahwa tuanku sedang sakit, jadi hamba pergi ke puncak gunung untuk bertemu tabib di sana, bukan berlibur seperti yang tuanku kira. Ternyata tabib itu juga telah mengetahui penyakit tuanku raja hutan. Beliau berpesan bahwa obat yang mujarab bagi penyakit tuanku adalah daging Hyena.” 

Singa yang lebih mempercayai Serigala, tanpa menunggu lama lagi, Singa langsung menyergap Hyena dan memangsanya hingga habis. Hyena yang jahat akhirnya mati karena perbuatannya sendiri.

Kisah Serigala dan Bangau

Dongeng Polandia 

Bangau dan serigala mempunyai rumah yang saling berdekatan, keduanya berteman baik. Sayangnya serigala seringkali merasa iripada bangau. Setiap hari serigala selalu mencium bau masakan lezat dari rumah bangau, tapi bangau tidak pernah sekalipun mengantarkannya makanan. 

Maka pada suatu hari serigala sengaja mengundang bangau untuk makan di rumahnya. Serigala memasak makanan yang lezat dan baunya bisa tercium dari rumah bangau. 

“Hmmmm, sepertinya makanan serigala untuk nanti malam sangat lezat.” Pikir bangau. 

Pada malam harinya bangau datang ke rumah serigala. Di meja makan telah terhidang makan malam yang disajikan dalam piring yang lebar. Kedunya kemudian memulai makan. Bangau dengan paruhnya yang panjang kesulitan untuk mengambil makanan, berkali-kali ia mencoba, tapi tidak sedikitpun makanan yang bisa diambil dengan paruhnya. 

Sementara itu serigala dengan mudahnya menikmati makanan dalam piring itu hingga habis. Namun demikian bangau tetap tersenyum dan berterima kasih kepada serigala. 

“Terima kasih atas makan malam yang menyenangkan ini. Besok giliran aku mengundangmu untuk makan malam di rumahku. Kau harus datang serigala karena aku akan memasak steak yang sangat lezat khusus untukmu.” 

“Aku pasti akan datang, Bangau. Terima kasih atas undanganmu. Kau baik sekali,” jawab seriga. Dalam hati ia tertawa karena sudah berhasil berbuat jahil pada Bangau. * Besoknya bau masakan Bangau yang lezat tercium sampai rumah serigala. 

“Hmmmmm…. Baunya enak sekali. Aku tidak sabar menunggu sampai nanti malam.” Kata Serigala. 

PAda malam harinya, serigala berkunjung ke rumah Bangau untuk memenuhi undangan makan malam tetangganya itu. Sesampainya di sana Bangau telah menyiapkan hidangan makan malam di atas meja yang disajikan dalam sebuah kendi dengan leher panjang dan mulut yang sangat sempit. 

“Ayo kita makan sekarang.” Ajak Bangau sebagai tuan rumah. 

Serigala mencoba memasukkan moncongnya ke dalam mulut kendi, tapi tidak bisa masuk karena moncong serigala terlalu besar. Sampai akhirnya ia menggunakan kakinya untuk mengambil daging dalam kendi, tapi karena kuku-kuku serigala terlalu panjang maka tidak ada satu pun dagig yang bisa ia ambil. 

Sementara itu bangau memakan hidangan dalam kendi itu dengan mudahnya. Dengan paruhnya yang panjang, ia bisa menjangkau sampai ke bawah kendi. Sehingga dalam waktu singkat Bangau sudah menghabiskan makan malamnya tersebut. 

Serigala sadar kalau saat itu Bangau berniat membalas dendam atas undangan makan malamnya kemaren. Dengan marah Serigala pergi tanpa pamit sambil membanting pintu. 

“Akhirnya aku bisa membalasmu.” Kata Bangau dengan tawa gembira.